Nilai Tukar Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Rp17.100 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan diproyeksikan melemah hingga menembus level Rp17.100 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.
Dari sisi global, penguatan dolar AS menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Kebijakan moneter ketat bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi membuat imbal hasil aset dolar tetap menarik. Kondisi ini mendorong aliran modal global kembali ke Amerika Serikat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan The Fed ke depan turut memperbesar volatilitas pasar. Pelaku pasar masih mencermati data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang berpotensi membuat The Fed menunda penurunan suku bunga. Situasi ini membuat dolar AS cenderung menguat dalam jangka pendek.
Tekanan global juga diperparah oleh meningkatnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan dunia. Konflik yang belum mereda membuat investor cenderung mencari aset aman (safe haven), seperti dolar AS dan emas, sehingga mata uang emerging market kembali tertekan.
Dari dalam negeri, faktor defisit transaksi berjalan dan kebutuhan impor yang masih tinggi turut memengaruhi pergerakan rupiah. Permintaan dolar untuk pembayaran impor dan kewajiban utang luar negeri menambah tekanan di pasar valuta asing. Di sisi lain, arus modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik belum cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah.
Pelaku pasar juga menyoroti sentimen fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Kekhawatiran terhadap kesinambungan anggaran serta perlambatan ekonomi global turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar valas dan optimalisasi instrumen moneter. Langkah ini diharapkan dapat menahan pelemahan rupiah agar tidak bergerak terlalu volatil.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada dinamika global, terutama arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik dunia. Selama sentimen global belum sepenuhnya kondusif, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dengan potensi pelemahan hingga ke kisaran Rp17.100 per dolar AS